Saya hanya ingin berbagi pengalaman tentang pentingnya sebuah keyakinan (mukjizat kata-kata) dan pentingnya berpikir positif.
Ini berawal dari banyaknya email dari groups mailing list, yang saya terdaftar sebagai salah satu anggotanya. Sebenarnya ini adalah rangkaian tulisan berantai yang terakahir masuk ke miling list saya adalah Rahmadsyah Mind Therapist (RMT). Jujur saya belum kenal dengan Pak Rahmad ini. Tetapi tulisan-tulisannya telah menginspirasi saya. Saya pikir, saya harus berbagi dengan teman-teman disini, semoga bermanfaat.
Di suatu pagi saya mendapat kiriman tulisan cerdas dari RMT mengenai “Kita adalah lebih dari apa yang kita pikirkan, teori terbaru dari yang selama ini kita pegang (saya dan mungkin teman-teman lain juga). Saya pulang ke rumah dan mengatakan hal tersebut kepada teman saya ini. “Ucik kamu tahu, menurut RMT kita itu lebih dari apa yang kita pikirkan. Saat itu Ucik hanya menganggukan kepala dan hanya mengatakan mungkin juga ya.
Ucik adalah teman saya yang menurut saya smart, dia punya wawasan yang luas, dia tau banyak hal, dia suka bertanya kepada siapa saja. Diwaktu luangnya sering diisi dengan kegiatan membaca. Tidak heran banyak diantara temen kami menjadikan Ucik sebagai teman bercerita. Tetapi dalam hidupnya seorang UCik memiliki fisik yang lemah (menurut dia) dan saya tidak mempercayakan ini. Dia penderita sinuisitis, daya tahan tubuhnya lemah, dia tidak boleh lelah, tidak bisa lama di luar rumah apa lagi terkena matahari langsung dalam waktu yang lama.
Gejala penyakitnya jika sudah kambuh adalah bersin-bersin dan pilek dalam waktu 2-3 hari jika dia telah melakukan kegiatan fisik yang melelahkan..
Singkat cerita minggu lalu saya mengajak Ucik hiking ke sebuah bukit yang sering didaki oleh anak-teman pencinta alam. Saat itu saya ragu dengan jawaban Ucik apakah dia mau menerima ajakan saya atau tidak. Ternyata tanpa berpikir dia langsung mengiyakan ajakan saya. “iya kak saya ikut”.
Pagi minggu dengan persiapan logistik ala kadarnya, dengan personil berjumlah 12 orang, berangkatlah kami dengan tujuan mendaki gunung yang kami maksudkan. Dalam hati saya mencoba menerka apa yang ada dalam pikiran Ucik saat itu. Dia pasti bertanya-tanya dalam hati sanggup tidak ya aku daki gunung di depan ini. Kemudian pertanyaan ini terjawab sudah belum sampai 20 menit kami mendaki nafas kami tersengal-sengal, terlebih ucik, wajahnya pucat kehijauan, dan keringat dinginnya keluar dengan deras.
Melihat keadaan ini kami semua sepakat untuk beristirahat sejenak. Sempat terpikir oleh saya (dan mungkin saja Ucik) untuk menyerah saja dan kami kembali ke perkampungan. Tetapi Teman-teman yang sudah berpengalaman mendaki gunung menyarankan kami untuk mengatur nafas, dan duduk dengan posisi nyaman (kaki diselonjorkan dan menggerak-gerakkan tangan). (terima kasih buat teman-teman ya udah membuat kami belajar banyak hal dengan kegiatan ini).
Setelah dirasakan cukup untuk istirahat kami melanjutkan perjalanan. Alhamdulillah dengan rintangan yang tidak berarti kami sampai di tempat tujuan. Pesona Laut di balik gunung tadi sungguh Anugerah Ilahi yang tidak ternilai harganya.. Luar Biasa!!!
Begitu sampai di tempat tujuan, beberapa teman kami langsung mengambil posisinya masing-masing, memancing, menyelam, berenang, sedangkan saya dan Ucik memilih istirahat menikmati sepoi angin laut sambil bercerita.
Dalam masa rehat kami tiba-tiba Ucik mengatakan kepada saya ” Kak benar ya TERNYATA KITA ITU LEBIH DARI APA YANG KITA PIKIRKAN”. Sambil tersenyum saya menganggukkan kepala dengan sangat dalam.. Satu ide yang paling penting cik, maka’a jangan pernah berpikir buruk/jelek tentang diri kita, ini akan menjadi “KITA AKAN LEBIH BURUK/JELEK DARI APA YANG KITA PIKIRKAN”….(berpikir positiflah).
Saat pulang ternyata Ucik memimpin barisan kami di urutan ke-3. Dia lupa kalau dia tidak boleh capek, tidak boleh terkena matahari, lupa bahwa dia penderita asma…
Terima kasih untuk RMT yang telah menginspirasi kami…semoga ini dapat menjadi pengalaman bagi saya dan teman-teman sekalian.

