Kritik untuk Penguasa

Kritik secara etimologis berasal dari bahasa Yunani kritikós yang berarti membedakan. Kata ini sendiri diturunkan dari bahasa Yunani Kuno krités, artinya “orang yang memberikan pendapat atau beralasan” atau “analisis”, “pertimbangan nilai”, “interpretasi”, atau “pengamatan”. Kritik adalah masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan (Urtis dan B, Floyd, James J.; Winsor, Jerryl L. Komunikasi Bisnis dan Profesional. Remaja Rosdakarya, Bandung. 1996. Hal 284 dalam http://id.wikipedia.org/wiki/).
Kritik juga berarti kontrol sosial ketika seseorang atau sebuah lembaga telah jauh dari nilai-nilai yang telah disepakati. Semisal ketika seorang pejabat melakukan kesalahan maka otomatis orang-orang yang bekerja dibawah kekuasaannya yang tidak puas akan mengkritik pimpinan mereka. Dalam sebuah Negara tidak jarang rakyat melempar kritikan kepada pemerintah mereka.
Ketika menghadapi sebuah kritikan ada orang yang tenang-tenang saja, ada yang kalang kabut seperti kebakaran jenggot dan ada pula yang mengumpulkan segudang alasan untuk menangkis berbagai kritikan yang datang kepadanya.
Akan beda halnya apabila kita menganggap kritik adalah sebuah masukan yang akan memperbaiki sifat dan perilaku kita menjadi lebih baik. Anggap saja orang yang mengkritik kita berarti orang tersebut peduli dengan kita. Mereka masih mengharapkan kita sadar dan menjadi lebih baik.
Penguasa yang mendapat kritikan berarti rakyat dalam negerinya mencintai pemimpin mereka, serta masih memberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang telah diperbuatnya. Bayangkan ketika rakyat menjadi apatis, tidak mau peduli apa yang dilakukan oleh pemimpin meraka, berarti penguasa tersebut sudah dibenci oleh rakyatnya. Pilihan yang bijak adalah penguasa tersebut harus tahu diri dan mundur dari jabatannya bila tidak bisa menerima kritikan tersebut.
Pada lembar prakata sebuah karya tulis, laporan penelitian, skripsi mahasiswa seringkali mencantumkan kata-kata “Penulis mengharapkan kritikan yang bersifat konstruktif dari berbagai pihak agar hasil karya kami menjadi lebih baik di masa mendatang”.

Almarhum Gusdur mantan Presiden Republik Indonesia kerap melontarkan kritikan dalam bentuk guyonan. Tentu saja orang akan tersenyum begitu mendengar joke-joke yang dikeluarkan oleh Almarhum Abdurrahman Wahid. Kritik yang dilontarkan oleh Gusdur tidak langsung tetapi sangat mengena apabila dicerna lebih jauh. Contohnya ketika beliau mengkritik pejabat kepolisian. Saat itu Gus Dur berkata, “hanya ada 3 polisi yang tidak bisa disuap. Mereka adalah mantan Kapolri Hoegeng, polisi patung, dan polisi tidur” (http:www//detik.com).
Kisah yang juga menarik untuk di telusuri adalah perseteruan Prita Mulyasari VS Rumah Sakit OMNI Internasional. Berawal dari ketidakpuasan pelayanan RS OMNI Prita menuliskan surat kepada rekan-rekannya melalui email yang kemudian menuai komentar yang mendukung Prita dan menyalahkan OMNI. OMNI merasa nama baiknya tercemar mengadukan Prita ke lembaga hukum. Menurut Hakim yang membebaskan Prita mengatakan bahwa email Prita yang berjudul “Penipuan RS Omni Internasional Hospital Alam Sutra Tangerang” tidak melanggar hukum. Menurut Hakim kalimat yang disampaikan Prita adalah kritik kepada pihak OMNI demi kepentingan masyarakat.
Mantan presiden Amerika Serikat George W. Bush sering menuai kritikan dari masyarakat dunia yang menentang kebijakannya khususnya umat muslim dunia. Aksi yang paling heboh adalah ketika seorang wartawan Iraq melempar sepatu ke arah George W. Bush pada konferensi pers yang pada saat itu juga di hadiri oleh Perdana Menteri Iraq Nouri Maliki pada tanggal 14 Desember 2008 silam. Saat itu masyarakat Iraq menentang keberadaan pendudukan tentera Amerika di Iraq. Aksi tersebut dinilai bentuk kritik yang sangat berani dan menjadi bahan perbincangan dunia saat itu.
Pada saat awal pemerintahan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf-Muhammad Nazar, kalangan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) mengingatkan pemerintahan agar pemerintah Aceh tidak alergi dengan kritikan, hal ini di lansir Harian Analisa 25 Mei 2007 3 tahun lalu. Kritikan-kritikan serta saran yang bersifat konstruktif sangat dibutuhkan dalam upaya mewujudkan pemerintah yang baik dan bersih (Good and clean Government). Kritikan ini sangat dibutuhkan oleh pemerintah Aceh untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran rakyat sesuai dengan Visi dan Misi Irwandi-Nazar.
Ada kisah yang menggelikan ketika seorang penulis cerpen pada Harian Aceh yang bernama Renvanda yang menuliskan cerita yang bertajuk “Surat untuk Darwati”. Cerpen tersebut di muat di Harian Aceh tanggal 3 Januari 2010. Lima hari kemudian yaitu tanggal 8 Januari 2010 Redaksi Harian Aceh menerima sepucuk surat dari Gubernur Aceh. Surat tersebut berisikan tuduhan pencemaran nama baik dan meminta sang penulis untuk meralat ceritanya hanya karena tokoh dalam cerita tersebut dinamakan “Darwati” sama dengan nama istri Gubernur Irwandi Yusuf. Tidak siapkan Bapak Irwandi menerima kritikan tersebut? Tapi entahlah yang harus disadari bahwa rakyat Aceh masih sangat mengharapkan sosok pemimpin yang bijak dalam memimpin sebuah negeri yang bernama “Aceh” ini.
Alangkah baiknya ketika kritik disampaikan kepada pemerintah, pemimpin sebuah lembaga atau organisasi tertentu disertai dengan data dan fakta yang ada sehingga kritik tersebut tidak hanya sekedar kritik buta. Lebih bagus lagi apabila menyertai langkah konkrit yang harus diambil.
Kritik yang tidak berdasarkan atas fakta yang terjadi itu di sebut fitnah, oleh karena itu antara kritik dan pencemaran nama baik, bedanya hanya sebatas kulit bawang artinya sangat tipis dan bisa dipersepsikan dalam berbagai paradigma. Paradigma sangat tergantung dari pengalaman, pengetahuan, latar belakang dan sosial budaya si pengkritik dan orang yang menerima kritikan. Kita harus bijak dalam mengkritik atau menanggapi sebuah kritik yang datang kepada kita.
Dalam manajemen kritik ada beberapa hal yang harus diperhatikan ; pertama harus jelas siapa yang menjadi sasaran kritikan misalnya Bapak Kepala Desa, Presiden sebuah negara atau Kepala sekolah, kedua harus jelas dan spesifik yang menjadi kritikan. Kritikan yang tujuan awalnya untuk sebuah perbaikan hanya dianggap angin lalu apabila tidak jelas maksudnya. Ketiga harus tepat ruang dan waktunya. Sungguh tidak manusiawi apabila kritik disampaikan pada saat orang yang dikritik sedang sakit atau sedang dilanda musibah lainnya.
Etika-etika yang harus diperhatikan apabila kita melakukan sebuah kritikan adalah hendaknya kita tetap menghargai orang yang menjadi sasaran kritik kita. Menunjukkan empati yang tinggi bahwa kita ingin keadaan menjadi lebih baik. Jadi intinya manajemen kritik tetap saling menghargai dan yakinkan bahwa setelah ini tidak ada dendam di hatinya. Kritikan tidak berbentuk menyinggung kekurangan fisik seseorang misalnya cacat tubuh yang dia miliki atau penyakit tertentu yang dideritanya sejak lahir, contohnya buta, pincang dan lain sebagainya.

Jadi intinya, manajemen kritik merupakan bagian dari proses belajar bagaimana menjadi individu yang bertanggung jawab atas perkataan dan perbuatannya. Mengkritik yang elegan dicerminkan adanya rasa sportivitas. Kritik dilakukan secara tulus demi perbaikan semua pihak. Kritik juga hendaknya tanpa sifat-sifat contrast effect pada seseorang. Dengan demikian kritik itu sebenarnya bisa menjadi sesuatu yang elok. (ronawajah.wordpress.com/).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.