Setiap hari sampah di Kota Banda Aceh jumlahnya semakin meningkat. Menurut Berita Sore Online, jumlah sampah yang di hasilkan oleh warga kota Banda Aceh setiap harinya mencapai 2 ton atau 800 meter kubik perhari dan itu merupakan sampah campuran. Oleh petugas sampah-sampah ini di urus oleh pemerintah setempat dan di olah di TPA (tempat pembuangan Akhir) yang letaknya di Kampung Jawa Kota Banda Aceh.
Jika kita membandingkan sampah yang dihasilkan oleh warga kota Banda Aceh dengan warga yang tinggal di luar kota Banda Aceh, maka warga kota menghasilkan sampah lebih banyak. Semakin besar sebuah kota maka akan bertambah pula masalah sampah yang dihadapi. Semakin tinggi daya beli masyarakat, maka semakin banyak sampah terutama sampah plastik yang dibawa kerumah.
Dimana-mana saat ini sampah menjadi masalah. Sampah-sampah tersebut dihasilkan dari aktivitas rumah tangga, rumah makan/cafe/restoran, dari pasar tradisional serta dari pertokoan. Sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga, rumah makan, cafe dan restoran serta pasar tradisional bagian terbesarnya adalah dari bahan-bahan organik seperti sisa makanan dan sisa sayuran. Sedangkan sampah yang dihasilkan oleh pertokoan adalah plastik, kardus (karton) pembungkus barang-barang yang dijual dipasar. Beda halnya dengan kantong kresek atau kantong plastik. Semua orang menggunakan kantong kresek sebagai pembungkus. Maka tidak heran diantara jumlah sampah yang dihasilkan, yang paling banyak jumlahnya adalah kantong kresek atau plastik.
Air dalam kemasan berupa botol atau gelas plastik sering kita jumpai. Di warung, kantin, kantor, pada acara pesta dan hajatan tertentu orang sering memakai aqua dalam gelas. Harganya murah dan sangat praktis, tidak harus memasak air dan tidak perlu menyediakan gelas.
Diakui atau tidak hari ini kita sudah sangat tergantung dengan minuman dalam kemasan. Jajanan anak sekolah meningkat karena mereka harus membeli air dalam kemasan tersebut. Dulu di warung-warung kita mau makan apa saja pasti akan mendapatkan segelas air putih secara gratis. Tidak ada sampah yang kita hasilkan saat kita makan di warung. Gelas yang dipakai dapat digunakan berulang kali, hanya saja pemilik warung harus menyediakan gelas dan menuangkan kedalam gelas baru kemudian menyajikan kepada pelanggannya. Sedikit repot memang, tetapi hal inilah yang mengikat hubungan emosional antara penjual makanan dengan pembelinya. Selain itu pedagang juga mendapat untung dari menjual air minum dalam kemasan tersebut.
Dari waktu ke waktu sampah plastik semakin banyak di alam. Sebenarnya kita masih mungkin melepaskan ketergantungan kita terhadap plastik. Dulu, para leluhur kita tidak mengenal dengan yang namanya plastik Dibuang ketempat sampah misalnya dengan membiarkan pemerintah untuk mengurus sampah, yang pada akhirnya sampah plastik akan menumpuk terus akibatnya suatu saat TPA Kota Banda Aceh yang terletak di Kampung Jawa akan penuh sesak. Ketika ini terjadi otomatis pemerintah harus mencari lahan baru sebagai tempat pembuangan akhir. Tentu tidak satupun diantara kita yang mau tinggal dekat tempat pembuangan sampah bukan?
Melirik tata kelola sampah di Kota Bandung, Pemerintah mengeluarkan biaya 100 Juta/hari, tentu ini bukan biaya yang sedikit. Andai dana 100 Juta tersebut dialihkan untuk membuat rumah kaum dhuafa yang nilainya ± 50 juta/ unit, setiap hari 2 rumah kaum dhuafa dapat dibantu. Belum lagi bencana yang diakibatkan oleh tumpukan sampah di TPA-TPA. Ingat tidak kejadian yang menimpa TPA Leuwigajah di Bandung Februari 2005 yang merenggut sedikitnya 150 orang penduduk di sekitarnya.
Membuang sampah sebenarnya hanya memindahkan masalah. Sampah dari rumah kita dibawa ke TPA, rumah kita bersih tetapi TPA-nya yang bermasalah. Sampah dari rumah dibuang ke sungai, rumah kita bersih tetapi sungai dan air sungai menjadi tercemar. Begitupula jika sampah ditimbun lingkungan kita bersih tetapi tanah dan air tanah menjadi tercemar (sampah non organis). Jika dibakar sampah akan menimbulkan asap, asap dari hasil pembakaran sampah plastik dan logam berat dapat menyebabkan kanker, cacat pada bayi serta gangguan saraf.
Serba salah sebenarnya kita dalam menghadapi sampah. Tetapi bagaimana upaya kita agar kita tidak menghasilkan sampah. menolak kantong bungkusan ketika berbelanja atau membawa wadah makanan/minuman ketika harus membeli makanan/minuman juga dapat mengurangi sampah plastik, ini adalah contoh kecil yag bisa kita lakukan untuk mengurangi sampah. Jika kita tidak bisa sama sekali untuk tidak menghasilkan sampah minimal adalah mengurangi menghasilkannya.
Andai kita selaku warga Kota Banda Aceh tidak membantu pemerintah untuk mengelola sampah kita sendiri, maka bukan tidak mungkin Kota Banda Aceh akan mengalami nasib yang sama dengan Kota Bandung. Oleh karena itu kita bantu pemerintah kita dengan mengelola sampah kita sendiri mulai dari rumah.
Isi di kutip dari berbagai sumber.. terima kasih sudah mau mampir ke blog saya..salam sitikembar