Kami adalah sepasang anak kembar yang dilahirkan dengan masa kecil yang bahagia. Menjadi anak kampung merupakan anugerah bagi kami dan anak-anak kampung lainnya.
Mandi di kali pada saat banjir atau bahkan menjelang banjir menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua untuk mengawasi anak-anak mereka agar tidak celaka karena faktor alam. Tidak heran di tengah asiknya kami mandi di kali orang tua salah satu diantara kami datang dengan membawa sebatang kayu. Mengusir kami agar pulang meninggalkan tempat kami mandi, pikiran kami anak-anak pasti tidak senang karena ini hanya mengganggu keasikan kami saja. Setelah besar baru kami sadar sebenarnya mandi di kali pada saat hujan atau dalam keadaan mendung sangat berbahaya bisa saja tiba-tiba air bah datang dan menggulung tubuh kecil kami.
Lain lagi kami sepasang gadis kecil kembar. Kemana-mana kami berdua, sering di panggil si adek dan sikakak. Di mana ada si adek pasti ada sikakak. Menggunakan baju dengan motif yang sama. Rambut pirang kami selalu diikat Emak dengan model yang sama. Banyak orang yang salah membedakan antara kami berdua, si adek atau si kakak. Wajah kami memang sangat mirip. Hanya Emak yang tidak pernah salah menyebut si kakak atau si adek. Bapak saja sering tertukar. Ini menjadi lelucon bagi kami, siapa saja yang memanggil kami tetap kami sahut, dulu dengan alasan agar yang memanggil senang dan merasa enak hati, padahal adalam hati kami tersenyum sendiri, hehehe mereka salah.
Selain karena wajah kami yang sangat mirip, emak kami yang memiliki keahlian menjahit selalu membuat baju kami dengan model dan corak yang sama. Kalau lebaran pasti punya baju kembar. Ini juga yang membuat orang-orang sekampung sulit membedakan kami berdua.
Kisah indah kami yang lainnya adalah ketika harus membantu Abu Syik (kakek), mengutip melinjo jatuh di lampoh Tijiem ( lampoh (kebun) nama sebuah kawasan kebun masyarakat di kampung langga). Lampoh Abu Syik lumayan luas. Tanaman di dalamnya yang paling banyak adalah batang melinjo selebihnya durian, nangka, langsat, manggis, pisang, nenas. Abu Syik kami hidup dari berkebun, setiap hari minggu atau hari libur sekolah Abu Syik mengajak kami ke kebun membantunya mengutip melinjo (bahan baku membuat eping melinjo).
Saat-saat yang paling kami nantikan adalah saat makan siang. Setelah lelah bekerja kami berkumpul di rangkang (balai) yang dibuat dari kayu. Mulailah Abu Syik memasak. Dengan menggunakan periuk dari tanah dan ranting-ranting kecil sebagai bahan bakarnya jadilah nasi putih dengan aroma khas (jelas berbeda dengan kondisi sekarang kita masak nasi dengan menggunakan pemasak nasi yang dihubungkan dengan listrik.
Menu utama makan siang kami adalah asam kacang , telur asin, dan daun pepaya yang diuapkan diatas nasi menjelang matang. Asam kacang di buat dari kacang tanah yang telah di goreng, ditambah dengan asam sunti dan cabe rawit dan garam. Asam kacang bikinan Abu Syik lain dari yang lain. Porsi antara kacang tanah, cabe rawit, dan asam sunti hampir sama jumlahnya. Bisa dibayangkan rasanya ada lemak, asam, asin, pedas serta di tambah daun jeruk purut untuk aromanya. Ehm..nyammi.. Nikmatnya sungguh tidak terbayangkan, entah karena memang lauknya yang sangat istimewa atau memang karena teramat lelah setelah capek bekerja. Ketika menjelang sore hari kami pulang dengan mengantogi uang receh hadiah/upah dari Abu Syik kami.
Bahagianya masa kecil kami. Tapi kini Abu Syik telah pergi mendahului kami. Doa kami semoga Almarhum tenang di sisiNya.
<img src="